Ricketsia
merupakan bakteri patogen pada manusia yang berukuran sangat kecil, lebih kecil
dari bakteri dan lebih besar dari virus. Ricketsia selalu terdapat di dalam sel
hidup dan mengandung asam nukleat berupa RNA dan DNA. Ricketsia berkembang biak
dengan pembelahan biner.
Ricketsia
memiliki karakteristik berbentuk
cocobacil pleumorfik. Ricketsia kurang terwarnai dengan pengecatan gram tetapi
ia bersifat gram negatif, dan dapat dilihat dengan mikroskop cahaya diantaranya
dengan pengecatan giemsa. Dengan pengecatan giemsa, ricketsia berwarna biru.
Ricketsia tumbuh dan berkembang pada kuning telur berembrio. Ricketsia
merupakan parasit intra seluler obligat dan dapat tumbuh pada kultur sel 8 – 10
jam pada suhu 340 C. Preparat didapat dari suspensi kuning telur yang
disentrifugasi. Isolasi ricketsia tidak dilakukan di semua LAB tetapi hanya
dilakukan di LAB yang terekomendasi dengan alasan keamanan biologis.
Ricketsia
mudah hancur jika terkena panas, pengeringan, bahan kimia bakteriostatik, dan
jika ia berada diluar hospes. Ricketsia terkadang bisa ditemukan pada kotoran
serangga yang kering atau parasit yang mengandung Rick.Prawazekie dan dapat
bertahan hidup selama berbulan – bulan pada suhu kamar.
Ricketsia
yang masih hidup dapat membuat toksin serupa dengan endotoksin bakteri. Toksin
ini dapat menyebabkan kematian binatang percobaan beberapa jam setelah
inokulasi ricketsia. Jika suspensi kuman telah dicampur dengan antibodi anti
toksin disuntikan pada binatang percobaan, binatang tersebut tidak akan mati
karena toksin tersebut mengandung netralisasi toksin.
Ricketsia
berkembang biak didalam sel endothelium pembuluh darah kecil. Sel membengkak
dan mengalami nekrosis yang menyebabkan trombosit pembuluh darah mengalami
ruptur. Nekrosis pada kulit akan menimbulkan lesi vesikuler pada kulit. Di
dalam jaringan otak dapat ditemukan penumpukan limfosit, leukosit poli
morphonuclear. Kelainan serupa dapat dilihat dalam pembuluh darah kecil
jantung.
Infeksi
ricketsia pada manusia diikuti dengan timbulnya kekebalan yang tidak lengkap
terhadap reinfeksi yang berasal dari luar. Semua infeksi ricketsia ditandai
dengan demam, sakit kepala, malaise, lesu, kelainan di kulit (skin rush),
pembesaran limfe, dan hati. Pada Q – Fever tidak ada kelainan di kulit. Tingkat
kematian akibat dari ricketsia ini mencapai 90%, setelah sembuh kebal masa
penyembuhan memakan waktu hingga 4 minggu.
Beberapa
penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ricketsia ini diantaranya adalah typhus
epidemic yang ditularkan oleh kutu manusia (pedikulus vestimenti) yang
bersarang pada lipatan pakaian, dan sehari – hari kutu beberapa kali keluar
untuk menghisap darahdari kulit hospes. Kutu kepala dapat menularkan typhus
epidemic, tetapi jauh kurang efektif dibandingkan dengan kutu badan. Gejala
penyakit berat dan demam berakhir dalam waktu 2 minggu.
Typhus
endemik disebut juga murine typhus, ras typhus atau fleaborne typhus.
Penyebabnya adalah R.Typhus atau R.Mooseri ditularkan dari tikus ke tikus, dan
dari tikus ke manusia melalui pinjal dan kutu tikus serta kutu manusia.
Golongan
spotted fever ditularkan oleh sengkenit (tick), kuman tersebar di seluruh organ
termasuk ovarium dan kelenjar ludah. Secara klinis serupa dengan golongan
typhus, kelainan kulit mulai timbul di ekstermitas menyebar ke telapak kaki dan
tangan.
Demam
Querry atau yang biasa disebut Q-Fever, disebabkan oleh Caxiella Burnetti yang
tahan hidup di luar sel hospes. Penularan pada manusia terjadi lewat inhalasi
partikel infeksius. Gejala penyakitnya diantaranya ; pneumonitis tanpa kelainan
kulit. Kuman dapat bertahan lama dalam sekresi dan eksresi yang telah mongering
dalam wool, air, dan susu. Pada suhu 700 C kuman dapatbertahan
beberapa menit dalam formaldehid 0,5% dan tahan 48 jam. Dalam fenol 4% dapat
bertahan beberapa hari.
Demam
parit (trench fever), disebut demam 5 hari atau demam Quintana atau demam
tulang kering (shinbone fever). Disebabkan oleh Rochalimaea Quintana,
mikroorganisme ini tidak dapta dibiakkan dalam binatang percobaan biasa. Bukan
pada sel atau atau di dalam telur bertunas. Mikroorganisme ini dapat berkembang
biak pada blood agar atau agar darah dengan kadar CO2 10%.
Ditularkan oleh kutu manusia lewat tinja yang dikeluarkan. Gejala yang timbul
diantaranya adalah ; demam menggigil mendadak hilang dan timbul lagi dengan
siklus 3 sampai 5 hari, sakit kepala, malaise, nyeri tulang terutama pada
tulang kering.
Isolasi
ricketsia secara teknis sulit dilakukan, kegunaannya hanya terbatas untuk diagnose. Pada
pemeriksaan laboratorium selalu disertai bakteriema pada stadium awal demam
bahan darah seutuhnya, diinokulasikan pada marmot, tikus, atau telur bertunas.
Pada marmot terjadi pembengkakan scrotum, necrosis, pendarahan, dan akhirnya
mati. Isolasi dalam telur bertunas hasilnya kurang memuaskan. Serum penderita
dapat diperiksa secara periodic dengan reaksi weill felix, imunofluorescent,
atau komponen fiksasi selalu positive untuk ricketsia.
Pengobatan
yang dapat dilakukan, obat pilihan selalu 3 sampai 5 hari dengan tetrasiklyn
dan khlorampenicol. Pengobatan dengan menggunakan sulfonamide dapat memperparah
penyakit. Relaps dapat dicegah dengan member pengobatan selama 10 hari. Jika
antibiotika diberikan pada awal sakit pada jangka pendek dapat terjadi relaps.
Pengobatan setelah hari keenam sakit tidak akan terjadi relaps.
Pencegahan
penyebaran ricketsia dapat dilakukan dengan memutus rantai infeksi imunitas
dengan pemberian antibodi. Membasmi kutu dengan insektisida, membasmi tikus
dengan racun, menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu pencegahan
ricketsia. Vaksinasi aktiv dapatdilakukan dengan menyuntikkan antigen dari
kantong kuning telur bertunas atau biakan sel yang telah diolah dengan
formalin. Khloramphenicol atau tetracilin 3gr dapat diminum satu minggu sekali
untuk pencegahan ricketsia.