BAB
I
PENDAHULUAN
1.1Latar
Belakang
Manusia
merupakan salah satu makhluk hidup, dikatakan sebagai makhluk hidup karena
dapat bernafas, berkembang biak, tumbuh, beradaptasi, memerlukan makanan dan
mengeluarkan metabolisme (eliminasi). Setiap kegiatan yang dilakukan tubuh
dikarenakan peran masing – masing organ.
Salah satu
kegiatan tubuh dalam membuang sisa – sisa metabolism adalah mengeluarkan urine.
Membuang urine dengan melalui eliminasi merupakan salah satu aktivitas pokok
yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Apabila eliminasi tidak dilakukan
oleh tubuh, maka akan terjadi gangguan – gangguan diantaranya : retensi urine
(perubahan pola eliminasi urine), enuresis, inkontinensia urine, dll. Selain
dapat menimbulkan gangguan – gangguan yang disebutkan diatas, dapat juga
menimbulkan dampak pada sistem organ lain seperti sistem pencernaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Eliminasi
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa
metabolism tubuh baik berupa urine atau feses. Kebutuhan eliminasi dibagi
menjadi dua yaitu; eliminasi urine dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air
besar).
2.2
Jenis – Jenis Eliminasi
2.2.1 Eliminasi Urine (kebutuhan buang
air kecil)
2.2.2 Eliminasi Alvi (kebutuhan buang
air besar)
2.3
Pengertian Eliminasi Urine
Eliminasi urine adalah kebutuhan dalam
manusia yang esensial dan berperan menentukan kelangsungan hidup manusia.
Eliminasi dibutuhkan untuk mempertahankan homeostasis tubuh.
2.4
Organ yang Berperan dalam Eliminasi Urine
2.4.1 Ginjal
Ginjal merupakan organ retroperitoneal
(dibelakang selaput perut) yang terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri
tulang panggul. Ginjal berperan sebagai pengatur komposisi dan volume cairan
dalam tubuh. Ginjal juga menyaring bagian dari darah untuk dibuang dalam bentuk
urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh. Bagian ginjal terdiri
atas nefron yang merupakan unit dari struktur ginjal yang berjumlah kurang
lebih satu juta nefron. Melalui nefron, urine disalurkan ke dalam bagian pelvis
ginjal kemudian disalurkan melalui ureter menuju kandung kemih.
2.4.2 Ureter
Ureter adalah suatu saluran moskuler
berbentuk silider yang menghantarkan urine dari ginjal menuju kandung kemih.
Panjang ureter adalah sekitar 20 – 30 cm dengan diameter maksimum sekitar 1,7
cm didekat kandung kemih dan berjalan dari hilus ginjal menuju kandung kemih.
Dinding ureter terdiri dari mukosa yang dilapisi oleh sel – sel transisional,
otot polossirkuler, dan longitudinal yang dapat melakukan kontraksi guna
mengeluarkan urine menuju kandung kemih.
2.4.3 Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan sebuah kantong
yang terdiri atas otot polos yang berfungsi sebagai tempat penampungan air seni
(urine). Di dalam kandung kemih, terdapat lapisan jaringan otot yang memanjang
ditengah dan melingkar disebut sebagai detrusor, dan berfungsi untuk
mengeluarkan urine. Pada dasar kandung kemih terdapat lapisan tengah jaringan
otot yang berbentuk lingkaran bagian dalam atau disebut sebagai otot lingkaran
yang berfungsi menjaga saluran antara kandung kemih keluar tubuh.
Penyaluran rangsangan ke kandung kemih
dan rangsangan motoris ke otot lingkar bagian dalam diatur oleh system saraf
simpatis. Akibat dari rangsangan ini, otot lingkar menjadi kendur dan terjadi
kontraksi sphinoter bagian dalam sehingga urine tetap tinggal di dalam kandung
kemih. System para simpatis menyalurkan rangsangan motoris kandung kemih dan
rangsangan penghalang ke bagian dalam otot lingkar. Rangsangan ini dapat
menyebabkan terjadinya kontraksi otot detrusor dan kendurnya shinoter.
2.4.4 Uretra
Uretra merupakan organ yang berfungsi
untuk menyalurkan urine ke bagian luar. Saluran perkemihan dilapisi membrane
mukosa, dimulai dari meatus uretra hingga ginjal. Secara normal, mikroorganisme
tidak ada yang bias melewati uretra bagian bawah, namun membrane mukosa ini
pada keadaan patologis yang terus – menerus akan menjadikannya media baik untuk
pertumbuhan beberapa patogen.
2.5
Proses Pelaksanaan Eliminasi Urine
2.5.1 Proses Berkemih
Berkemih merupakan proses pengosongan
vesika urinaria (kandung kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan
saraf bila urinaria berisi ±
250 – 400 cc (pada orang dewasa) dan 200 – 250 cc (pada anak – anak).
Mekanisme
berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urie yang dapat menimbulkan
rangsangan pada saraf – saraf di dinding vesika urinaria. Kemudian rangsangan
tersebut diteruskan melalui medulla spinalis ke pusat pengontrol berkemih yang
terdapat di korteks serebral. Selanjutnya, otak memberikan impuls melalui
medula spinalis ke neuromotoris di daerah sakral, kmudian terjadi kontraksi
otot detrusor dan relaksasi otot sphincter internal. Urine dilepaskan dari
vesika urinaria, tetapi masih tertahan oleh spincter eksternal. Jika waktu dan
tempat memungkinkan, akan menyebabkan relaksasi spincter eksternal dan urine
dikeluarkan (berkemih).
2.6 Faktor yang Mempengaruhi
Eliminasi Urine
2.6.1
Diet dan Asupan (in take)
Jumlah
dan tipe makanan merupakan factor utama yang mempengaruhi output urine (jumlah
urine). Protein dan natrium dapat menentukan jumlah urine yang dibentuk. Selain
itu, minum kopi juga dapat meningkatkan pembentukan urine.
2.6.2
Respons Keinginan Awal untuk Berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal
untuk berkemih dapat menyebakan urine banyak tertahan di dalam vesika urinaria,
sehingga mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
2.6.3 Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya fasilitas
toilet.
2.6.4 Stres psikologis
Meningkatnya stress dapat meningkatkan
frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk
keinginan berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.
2.6.5 Tingkat aktivitas
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot
vesika urinaria yang baik untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot
didapatkan dengan braktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinaria dapat
menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun.
2.6.6 Tingkat Perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan
juga dapat mempengaruhi pola berkemih. Hal tersebut dapat ditemukan pada anak,
yang lebih memiliki kesulitan untuk mengontrol buang air kecil. Namun,
kemampuan dalam mengontrol buang air kecil meningkat seiring dengan pertambahan
usia.
2.6.7 Kondisi Penyakit
Kondisi penyakit dapat mempengaruhi
produksi urine, seperti diabetes mellitus.
2.6.8 Sosiokultural
Budaya dapat mempengaruhi pemenuhan
kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang
melarang untuk buang air kecil di tempat tertentu.
2.6.9 Kebiasaan Seseorang
Seseorang yang memiliki kebiasaan
berkemih di toilet, biasanya mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui
urineal/pot urine bila dalam keadaan sakit.
2.6.10 Tonus Otot
Tonus otot berperan penting dalam
membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis.
Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi sebagai pengontrolan pengeluaran
urine.
2.6.11 Pembedahan
Pembedahan berefek menurunkan filtrasi
glomerulus sebagai dampak dari pemberian obat anestesi sehingga menyebabkan
penurunanjumlan produksi urine.
2.6.12 Pengobatan
Pemberian tindakan pengobatan dapat
berdampak pada terjadinya peningkatan atau penurunan proses perkemihan.
Misalnya pemberian diuretik dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan
pemberian obat antikolinergik dan anthipertensi dapat menyebabkan retensi
urine.
2.6.13 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat
mempengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur – prosedur yang
berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus
pyelogram (IVP). Pemeriksaan ini dapat membatasi jumlah asuan sehingga
mengurangi produksi urine. Selain itu, tindakan sistoskopi dapat menimbulkan
edema local pada uretra sehingga pengeluaran urine terganggu.
2.7
Gangguan Eliminasi Urine
2.7.1 Retensi urine
Retensi urine merupakan penumpukan urine
dalam kandung kemih akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan
kandung kemih. Hal ini menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan
keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak
lengkap. Dalam keadaan distensi, vesika urinaria dapat menampung urine sebanyak
3000 – 4000 ml urine.
2.7.2 Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine merupakan
ketidakmampuan otot sphincter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol
ekskresi urine. Secara umum, penyebab dari inkontinensia urine adalah proses
penuaan, pembesaran kelenjar prostat, serta penuaaan kesadaran, serta
penggunaan obat narkotik.
2.7.3 Enuresis
Enuresis merupakan ketidaksanggupan
menahan kemih yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksternal.
Biasanya, enuresis terjadi pada anak atau otang jompo. Umumnya enuresis terjadi
pada malam hari.
2.7.4 Perubahan Pola Eliminasi Urine
Perubahan pola eliminasi urine merupakan
keadaan seseorang yang mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi
anatomis, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan pola
eliminasi terdiri atas:
2.7.4.1 Frekuensi
Frekuensi merupakan banyaknya jumlah
berkemih dalam sehari. Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya
jumlah cairan yang masuk. Frekuensi yang tinggi tanpa suatu tekanan asupan
cairan dapat disebabkan oleh sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan juga
pada keadaan stres atau hamil.
2.7.4.2 Urgensi
Urgensi adalah perasaan seseorang yang
takut mengalami inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumnya, anak kecil
memiliki kemampuan yang buruk dalam mengontrol sphincter eksternal. Biasanya,
perasaan segera ingin berkemih terjadi pada anak karena kurangnya pengontrolan
pada sphincter.
2.7.4.3 Disuria
Disuria adalah rasa sakit dan kesulitan
dalam berkemih. Hal ini sering ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih,
trauma, dan striktur uretra.
2.7.4.4 Poliuria
Poliuria merupakan produksi urine
abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan
cairan. Biasanya, hal ini dapat ditemukan pada penyakit diabetes mellitus dan
penyakit ginjal kronis.
2.7.4.5 Urinaria Supresi
Urinaria supresi adalah berhentinya
produksi urine secara mendadak. Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal
pada kecepatan 60 – 120 ml/jam secara terus – menerus.
2.8
Penanggulangan Gangguan Eliminasi Urine
2.8.1 Pengumpulan Urine untuk Bahan
Pemeriksaan
Mengingat tujuan pemeriksaan dengan
bahan urine tersebut berbeda – beda maka dalam pengambilan atau pengumpulan
urine juga dibedakan sesuai dengan tujuannya. Cara pengambilan urinetersebut
antara lain ; pengambilan urine biasa, pengambilan urine steril, dan
pengumpulan selama 24 jam.
2.8.1.1 Pengambilan Urine Biasa
Pengambilan urine biasa merupakan
pengambilan urine dengan mengeluarkan urine secara biasa, yaitu buang air
kecil. Pengambilan urine biasa ini biasanya digunakan untuk pemeriksaan kadar
gula dalam urine, pemeriksaan kehamilan, dll.
2. 8.1.2 Pengambilan Urine Steril
Pengambilan urine steril merupakan
pengambilan urine dengan menggunakan alat steril, dilakukan dengan kateterisasi
atau fungsi suprapubisyang bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi pada
uretra, ginjal, atau saluran kemih lainnya.
2.8.1.3 Pengambilan Urine Selama 24 Jam
Pengambilan urine selama 24 jam
merupakan pengambilan urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam, bertujuan
untuk mengetahui jumlah urine selama 24 jam dan mengukur berat jenis, asupan
dan output, serta mengetahui fungsi ginjal.
2.8.2 Menolong Buang Air Kecil dengan
Menggunakan Urineal
Tindakan membantu pasien yang tidak
mampu buang air kecil sendiri di kamar kecil dilakukan dengan menggunakan alat
penampung (urineal). Hal tersebut dilakukan untuk menampung urine dan
mengetahui kelainan dari urine (warna dan jumlah).
2.8.3 Melakukan Kateterisasi
Kateterisasi merupakan tindakan
memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra untuk membantu
memenuhi kebutuhan eliminasi, sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Dalam
pelaksanaannya, kateterisasi terbagi menjadi dua tipe internitent (straight
kateter) dan tipe indwelling (foley kateter).
2.9
Pengertian Eliminasi Alvi
Eliminasi alvi adalah proses pembuangan
atau pengeluaran metabolism berupa feses yang berasal dari saluran pencernaan
yang melalui anus. Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam
satu hari atau satu kali. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga
hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali – kali dalam satu
hari, biasanya gangguan – gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang
tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi maslah yang lebih besar.
2.10
Organ yang Berperan dalam Eliminasi Alvi
2.10.1 Usus Halus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian
dari saluran pencernaan yang terletah diantara lambung dan usus besar. Bagian –
bagian dari usus halus yaitu; duodenum (usus dua belas jari), jejunum (usus
kosong), ileum (usus penyerapan).
2.10.1.1 Duodenum (usus dua belas jari)
Usus dua belas jari adalah bagian dari
usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong
dengan panjang antara 25 – 38 cm. bagian usus dua belas jari merupakan bagian
terpendek dari usus halus.
2.10.1.2 Jejunum (usus kosong)
Usus kosong adalah bagian kedua dari
usus halus, diantara usus dua belas jari dan usus penyerapan. Pada manusia
dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2 – 8 meter, 1 – 2 meter adalah
bagian usus kosong.
2.10.1.3 Ileum (usus penyerapan)
Usus penyerapan adalah bagian terakhir
dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia ini memiliki panjang sekitar 2
– 4 meter dan terletak setelah duodenum dan jejunum dan dilanjutkan oleh
usus buntu.
2.10.2 Usus Besar
Usus besar adlah bagian usus antara usus
buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dan feses. Bagian
– bagian dari usus besar yaitu; kolon, rektum, dan anus.
2.10.2.1 Kolon
Kolon adalah bagian usus antara usus
buntu dan rektum.
2.10.2.2 Rektum
Rektum adalah organ terakhir dari usus
besar. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan feses sementara.
2.10.2.3 Anus
Anus atau dubur adlah sebuah bukaan dari
rektum ke lingkungan luar tubuh.
2.11
Proses Pelaksanaan Eliminasi Alvi
2.11.1 Proses Defekasi
Defekasi merupakan proses pengosongan
usus yang sering disebut buang air besar. Terdapat dua pusat yang menguasai
reflex untuk defekasi, yang terletak di medulla dan sussum tulang belakang.
Apabila terjadi rangsangan parasimpatis, sphincter anus bagian dalam akan
mengendur dan usus besar menguncup. Refleks defekasi dirangsang untuk buang air
besar, kemudian sphincter anus bagian luar yang diawasi oleh sistem saraf
parasimpatis, setiap waktu menguncup atau mengendur. Selam defekasi berbagai
otot lain membantu prose situ, seperti otot dinding perut, diafragma, dan otot
– otot dasar pelvis.
Secara umum, terdapat dua macam refleks
yang membantu proses defekasi, yaitu refleks defekasi intrinsik dan refleks
defekasi parasimpatis. Refleks defekasi intrinsik dimulai dari adanya zat sisa
makanan (feses) di dalam rektum sehingga terjadi distensi kemudian flexus
mesenterikus merangsang gerakan peristaltik, dan akhirnya feses sampai di anus.
Lalu pada saat sphincter internal relaksasi, maka terjadilah proses defekasi.
Sedangkan, refleks defekasi parasintetis dimulai dari adanya proses dalam
rektum yang merangsang saraf rektum, ke spinal cord, dan merangsang ke kolon
desenden, kemudian ke sigmoid, lalu ke rektum dengan gerakan peristaltik dan
akhirnya terjadi relaksasi sphincter internal, maka terjadilah proses defekasi
saat sphincter internal berelaksasi. Feses terdiri atas sisa makanan seperti
selulosa yang tidak direncanakan dan zat makanan lainyang seluruhnya tidak
dipakai oleh tubuh, berbagai macam mikroorganisme, sekresi kelenjar usus,
pigmen empedu dan usus kecil.
2.12
Gangguan Eliminasi Alvi
2.12.1 Konstipasi
Konstipasi merupakan keadaan individu
yang mengalami atau beresiko tinggi mengalami statis usus besar sehingga
mengalami eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja yang keluar terlalu
kering dan keras.
2.12.2 Diare
Diare merupakan keadaan individu yang
mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair.
Diare sering disertai kejang usus, mungkin ada rasa mual dan muntah.
2.12.3 Inkontinesia Usus
Inkontinesia usus merupakan keadaan
individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi normal,
sehingga mengalami proses pengeluaran feses tidak disadari. Hal ini juga
disebut sebagai inkontinesia alvi yang merupakan hilangnya kemampuan otot untuk
mengontrol pengeluaran feses dan gas melalui sphincter akibat kerusakan
sphincter.
2.12.4 Kembung
Kembung merupakan keadaan penuh udara di
dalam perut karena pengumpulan gas berlebih di dalam lambung atau usus.
2.12.5 Hemorroid
Hemorrhoid merupakan keadaan terjadinya
pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan di daerah anus
yang dapat disebabkan karena konstipasi, peregangan saat defekasi dan lain –
lain.
2.12.6 Fecal Impaction
Fecal impaction merupakan massa feses
karena dilipatkan rektum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi materi
feses yang berkepanjangan. Penyebab fecal impaction adalah asupan kurang,
kurang aktivitas, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot.
2.13
Faktor yang Mempengarhi Eliminasi Alvi
2.13.1 Usia
Setiap tahap perkembangan atau usia
memiliki kemampuan mengontrol proses defekasi yang berbeda.
2.13.2 Diet
Diet pola atau jenis makanan yang
dikonsumsi dapat mempengaruhi proses defekasi. Makanan yang memiliki kandungan
serat tinggi dapat membantu proses percepatan defekasi dan jumlah yang
dikonsumsi dapat mempengaruhinya.
2.13.3 Asupan Cairan
Pemasukan cairan yang kurang ke dalam
tubuh membuat defekasi menjadi keras. Oleh karena itu, proses absorpsi air yang
kurang menyebabkan kesulitan proses defekasi.
2.13.4 Aktivitas
Aktivitas dapat mempengaruhi proses
defekasi karena melalui aktivitas tinus otot abdomen, pelvis, dan diafragma
dapat membantu kelancaran proses defekasi.
2.13.5 Pengobatan
Pengobatan juga dapat mempengaruhi
proses defekasi, sperti penggunaan laksantif, atau antasida yang terlalu
sering.
2.13.6 Kebiasaan atau Gaya Hidup
Kebiasaan atau gaya hidup dapat
mempengaruhi proses defekasi. Hal ini dapat terlihat pada seseorang yang
memiliki gaya hidup sehat atau terbiasa melakukan buang air besar di tempat
bersih atau toilet, jika seseorang terbiasa buang air besar di tempat yang
kotor, maka ia akan mengalami kesulitan dalam proses defekasi.
2.13.7 Penyakit beberapa penyakit dapat
mempengaruhi proses defekasi, biasanya penyakit – penyakittersebut berhubungan
langsung dengan sistem pencernaan seperti gastroenteristis atau penyakit
infeksi lainnya.
2.13.8 Nyeri
Adanya nyeri dapat mempengaruhi
kemampuan atau keingian untuk defekasi seperti nyeri pada kasus hemorrhoid atau
episiotomy.
2.13.9 Kerusakan Sensoris dan Motoris
Kerusakan pada sistem sensoris dan
motoris dapat mempengaruhi proses defekasi karena dapat menimbulkan proses
penurunan stimulasi sensoris dalam melakukan defekasi.
2.14
Penanggulangan Gangguan Eliminasi Alvi
2.14.1 Menyiapkan Feses untuk Bahan
Pemeriksaan
Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan
merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengambil feses sebagai bahan
pemeriksaan. Pemeriksaan tersebut yaitu pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan
kultur (pembiakan).
2.14.2 Memberikan Huknah Rendah
Memberikan huknah rendah merupakan
tindakan memasukkan cairan hangat kedalam kolon desensen dengan menggunakan
kanula rekti melalui anus. Tindakan tersebut bertujuan untuk mengosongkan usus
pada proses prabedah agar dapat mencegah terjadinya obstruksi makanan sebagai
dampak pasca operasi dan merangsang buang air besar pada pasien yang mengalami
kesulitan buang air besar.
2.14.3 Memberikan Huknah Tinggi
Memberikan huknah tinggi merupakan
tindakan memasukkan cairan hangat kedalam kolon asenden dengan menggunakan
kanula usus. Hal tersebut dilakukan untuk mengosongkan usus pada pasien
prabedah untuk prosedur diagnostik.
2.14.4 Membantu Pasien Buang Air Besar
dengan Pispot
Membantu pasien buang air besar dengan
pispot ditempat tidur merupakan tindakan bagi pasien yang tidak mampu buang air
besar secara sendiri di kamar mandi.
2.14.5 Memberikan Gliserin
Memberikan gliserin merupakan tindakan
memasukkan cairan gliserin ke dalam poros usus dengan menggunakan spuit
gliserin. Hal ini dilakukan untuk merangsang peristaltik usus, sehingga pasien
dapat buang air besar.
2.14.6 Mengeluarkan Feses dengan Jari
Mengeluarkan feses dengan jari merupakan
tindakan memasukkan jari ke dalam rektum pasien untuk mengambil atau
menghancurkan feses sekaligus mengeluarkannya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka
adapun simpulan yang dapat penulis ambil yaitu sebagai berikut:
3.1.1 Eliminasi merupakan proses pembuangan
sisa metabolism tubuh baik berupa urine maupun alvi demi menjaga homeostasis
tubuh.
3.1.2 Eliminasi urine merupakan
kebutuhan dalam manusia yang esensial dan berperan dalam menentukan
kelangsungan hidup manusia. Eliminasi dibutuhkan manusia untuk mempertahankan
kesehatan tubuh. Adapun organ – organ yang berperan dalam proses eliminasi
urine diantaranya; ginjal, ureter, kandung kemih, uretra.
3.1.3 Eliminasi alvi merupakan proses
pembuangan atau pengeluaran metabolism berupa feses yang berasal dari saluran
pencernaan. Adapun sistem tubuh yang berperan dalam proses eliminasi alvi ini
adalah sistem gastrointestinal yang meliputi usus halus dan usus besar.
3.2
Saran
Penulisan makalah ini diharapkan dapat
memotivasi masyarakat atau pembaca, agar dapat menjaga kesehatan organ
eliminasi sehingga proses eliminasi di dalam tubuh manusia dapat berjalan
dengan baik dan seimbang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar