Jumat, 02 November 2012

Ricketsia


 Ricketsia merupakan bakteri patogen pada manusia yang berukuran sangat kecil, lebih kecil dari bakteri dan lebih besar dari virus. Ricketsia selalu terdapat di dalam sel hidup dan mengandung asam nukleat berupa RNA dan DNA. Ricketsia berkembang biak dengan pembelahan biner. 
Ricketsia memiliki karakteristik  berbentuk cocobacil pleumorfik. Ricketsia kurang terwarnai dengan pengecatan gram tetapi ia bersifat gram negatif, dan dapat dilihat dengan mikroskop cahaya diantaranya dengan pengecatan giemsa. Dengan pengecatan giemsa, ricketsia berwarna biru. Ricketsia tumbuh dan berkembang pada kuning telur berembrio. Ricketsia merupakan parasit intra seluler obligat dan dapat tumbuh pada kultur sel 8 – 10 jam pada suhu 340 C. Preparat didapat dari suspensi kuning telur yang disentrifugasi. Isolasi ricketsia tidak dilakukan di semua LAB tetapi hanya dilakukan di LAB yang terekomendasi dengan alasan keamanan biologis.
Ricketsia mudah hancur jika terkena panas, pengeringan, bahan kimia bakteriostatik, dan jika ia berada diluar hospes. Ricketsia terkadang bisa ditemukan pada kotoran serangga yang kering atau parasit yang mengandung Rick.Prawazekie dan dapat bertahan hidup selama berbulan – bulan pada suhu kamar.
Ricketsia yang masih hidup dapat membuat toksin serupa dengan endotoksin bakteri. Toksin ini dapat menyebabkan kematian binatang percobaan beberapa jam setelah inokulasi ricketsia. Jika suspensi kuman telah dicampur dengan antibodi anti toksin disuntikan pada binatang percobaan, binatang tersebut tidak akan mati karena toksin tersebut mengandung netralisasi toksin.
Ricketsia berkembang biak didalam sel endothelium pembuluh darah kecil. Sel membengkak dan mengalami nekrosis yang menyebabkan trombosit pembuluh darah mengalami ruptur. Nekrosis pada kulit akan menimbulkan lesi vesikuler pada kulit. Di dalam jaringan otak dapat ditemukan penumpukan limfosit, leukosit poli morphonuclear. Kelainan serupa dapat dilihat dalam pembuluh darah kecil jantung.
Infeksi ricketsia pada manusia diikuti dengan timbulnya kekebalan yang tidak lengkap terhadap reinfeksi yang berasal dari luar. Semua infeksi ricketsia ditandai dengan demam, sakit kepala, malaise, lesu, kelainan di kulit (skin rush), pembesaran limfe, dan hati. Pada Q – Fever tidak ada kelainan di kulit. Tingkat kematian akibat dari ricketsia ini mencapai 90%, setelah sembuh kebal masa penyembuhan memakan waktu hingga 4 minggu.
Beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri ricketsia ini diantaranya adalah typhus epidemic yang ditularkan oleh kutu manusia (pedikulus vestimenti) yang bersarang pada lipatan pakaian, dan sehari – hari kutu beberapa kali keluar untuk menghisap darahdari kulit hospes. Kutu kepala dapat menularkan typhus epidemic, tetapi jauh kurang efektif dibandingkan dengan kutu badan. Gejala penyakit berat dan demam berakhir dalam waktu 2 minggu.
Typhus endemik disebut juga murine typhus, ras typhus atau fleaborne typhus. Penyebabnya adalah R.Typhus atau R.Mooseri ditularkan dari tikus ke tikus, dan dari tikus ke manusia melalui pinjal dan kutu tikus serta kutu manusia.
Golongan spotted fever ditularkan oleh sengkenit (tick), kuman tersebar di seluruh organ termasuk ovarium dan kelenjar ludah. Secara klinis serupa dengan golongan typhus, kelainan kulit mulai timbul di ekstermitas menyebar ke telapak kaki dan tangan.
Demam Querry atau yang biasa disebut Q-Fever, disebabkan oleh Caxiella Burnetti yang tahan hidup di luar sel hospes. Penularan pada manusia terjadi lewat inhalasi partikel infeksius. Gejala penyakitnya diantaranya ; pneumonitis tanpa kelainan kulit. Kuman dapat bertahan lama dalam sekresi dan eksresi yang telah mongering dalam wool, air, dan susu. Pada suhu 700 C kuman dapatbertahan beberapa menit dalam formaldehid 0,5% dan tahan 48 jam. Dalam fenol 4% dapat bertahan beberapa hari.
Demam parit (trench fever), disebut demam 5 hari atau demam Quintana atau demam tulang kering (shinbone fever). Disebabkan oleh Rochalimaea Quintana, mikroorganisme ini tidak dapta dibiakkan dalam binatang percobaan biasa. Bukan pada sel atau atau di dalam telur bertunas. Mikroorganisme ini dapat berkembang biak pada blood agar atau agar darah dengan kadar CO2 10%. Ditularkan oleh kutu manusia lewat tinja yang dikeluarkan. Gejala yang timbul diantaranya adalah ; demam menggigil mendadak hilang dan timbul lagi dengan siklus 3 sampai 5 hari, sakit kepala, malaise, nyeri tulang terutama pada tulang kering.
Isolasi ricketsia secara teknis sulit dilakukan, kegunaannya  hanya terbatas untuk diagnose. Pada pemeriksaan laboratorium selalu disertai bakteriema pada stadium awal demam bahan darah seutuhnya, diinokulasikan pada marmot, tikus, atau telur bertunas. Pada marmot terjadi pembengkakan scrotum, necrosis, pendarahan, dan akhirnya mati. Isolasi dalam telur bertunas hasilnya kurang memuaskan. Serum penderita dapat diperiksa secara periodic dengan reaksi weill felix, imunofluorescent, atau komponen fiksasi selalu positive untuk ricketsia.   
Pengobatan yang dapat dilakukan, obat pilihan selalu 3 sampai 5 hari dengan tetrasiklyn dan khlorampenicol. Pengobatan dengan menggunakan sulfonamide dapat memperparah penyakit. Relaps dapat dicegah dengan member pengobatan selama 10 hari. Jika antibiotika diberikan pada awal sakit pada jangka pendek dapat terjadi relaps. Pengobatan setelah hari keenam sakit tidak akan terjadi relaps.
Pencegahan penyebaran ricketsia dapat dilakukan dengan memutus rantai infeksi imunitas dengan pemberian antibodi. Membasmi kutu dengan insektisida, membasmi tikus dengan racun, menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu pencegahan ricketsia. Vaksinasi aktiv dapatdilakukan dengan menyuntikkan antigen dari kantong kuning telur bertunas atau biakan sel yang telah diolah dengan formalin. Khloramphenicol atau tetracilin 3gr dapat diminum satu minggu sekali untuk pencegahan ricketsia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar