Sistem pendidikan kebidanan di Indonesia sebelum masa kemerdekaan Indonesia
Pelayanan kebidanan
adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan dalam
sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum
perempuan khususnya ibu dan anak.
Pada zaman pemerintahan
Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong
persalinan adalah dukun bayi yang tidak terlatih secara medis. Pada tahun 1807
yakni pada zaman pemerintahan Gubernur Jendral Hendrik Wiliam Deandels, para
dukun bayi dilatih untuk pertolongan persalinan. Akan tetapi hal ini tidak
dapat berlanjut karena tidak ada pelatih bidan.
Pada saat itu
pendidikan yang diberikan kepada dukun bayi cenderung berorientasi pada
kesehatan masyarakat, seperti halnya promosi kesehatan yang diberikan oleh
bidan desa pada dukun bayi. Lebih banyak kecenderungan ilmu kesehatan
masyarakat dari pada pelayanan individu mengenai teknik pelayanan persalinan
yang sehat.
Perkembangan pendidikan
kebidanan berjalan seiring dan selalu berhubungan dengan perkembangan pelayanan
kebidanan. Dalam perkembangannya, selalu mengikuti tuntutan atau
kebutuhan masyarakat di satu sisi, di sisi lain pun mengikuti sistem
manajemen modern serta peralatan yang makin modern pula. Dalam hal ini
pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal dan nonformal.
Pada tahun 1851
,seorang dokter militer Belanda yakni W. Bosch membuka pendidikan bidan bagi
wania pribumi di Batavia. Pendidikan ini tidak berlangsung lama disebabkan
karena pembatasan bagi wanita untuk keluar rumah. Hal ini berkaitan dengan
sistem adat dan budaya saat itu.
Pada tahun 1902
pendidikan bidan dibuka kembali bagi wanita pribumi di Rumah Sakit Militer
Batavia. Pada tahun 1904 pendidikan bidan bagi wanita indo dibuka pula di
Makasar. Lulusan dari pendidikan ini harus bersedia untuk di tempatkan di mana
saja dan bersedia menolong masyarkat yang tidak mampu dengan cuma - cuma.
Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah
kurang lebih 15,35 Gulden/bulan. Kemudian pada tahun 1922 tunjangan tersebut
dinaikkan menjadi 49 Gulden/bulan.
Sekitar tahun 1912-1922
dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di CBZ ( Centrale
Burgelikje Ziekeninrichting) sekarang RSUP Ciptomangunkusumo di RSUP
Semarang pada waktu itu. Calon yang diterima adalah dari HIS (Hollandsche
Indische School) setingkat SD 7 tahun dengan pendidikan keperrawatan 4 tahun.
Pada awalnya hanya dapat menerima siswa pria. Pada tahun 1914 diterima siswa
wanita pertama kali. Bagi perawat wanita yang lulus dapat meneruskan pendidikan kebidanan selama dua
tahun pula.
Pada tahun 1935 – 1938
pemerintah Koloial Belanda mulai medidik bidan lulusan MULO (Meer Uitgebreid
Larger Onderwijs) setingkat SLTP bagian B dan hampir bersamaan dibuka sekolah
bidan di beberapa kota besar antara lain: Jakarta di Rumah Sakit Bersalin Budi
Kemuliaan, RSB Palang Dua, dan RSB Mardi Waaluyo di Semarang. Di tahun yang
sama dikeluarkan sebuah peraturan yang membedakan lulusan bidan berdasarkan
latar belakang pendidikan. Bidan dengan dasar pendidikan MULO dan
pendidikan bidan selama 3 tahun tersebut, bidan kelas satu (Vreodrouweerste
Klas) dan bidan dari lulusan perawat (mantri) disebut bidan kelas dua
(Vreuodrowtweede Klas). Perbedaan ini menyangkut keuntungan gaji pokok dan
tunjangan bagi bidan. Pada zaman penjajahan Jepang, pemerintah mendirikan
sekolah perawat atau sekolah bidan dengan nama dan dasar yang berbeda, namun
memiliki persyaratan yang sama dengan zaman penjajahan Belanda. Peserta didik
kurang berminat memasuki sekolah tersebut dan mereka mendaftar dengan terpaksa karena tidak ada pendidikan yang
lain.
Sistem pendidikan kebidanan setelah masa kemerdekaan hingga sekarang
Pada tahun 1905- 1953
dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP dengan batasan usia minimal 17 tahun dan
lama pendidikan 3 tahun. Mengingat kebutuhan tenaga untuk menolong persalinan
cukup banyak, maka dibuka pendidikan pembantu bidan yang disebut penjenjeng
kesehatan E atau pembantu bidan. Pendidikan itu dilanjutkan sampai tahun 1976
dan setelah itu ditutup. Peserta didik PK/E sebagian besar melanjutkan
pedidikan bidan selama dua tahun.
Tahun 1953 dibuka Khursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta, lamanya khursus antara 7- 12 minggu. Pada tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta. Tujuan dari KTB ini adalah untuk memperkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan masyarakat, sebelum lulusan memulai tugasnya sebagai bidan terutama menjadi bidan di BKIA. Pada tahun 1967 KTB ditutup.
Tahun 1953 dibuka Khursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta, lamanya khursus antara 7- 12 minggu. Pada tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta. Tujuan dari KTB ini adalah untuk memperkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan masyarakat, sebelum lulusan memulai tugasnya sebagai bidan terutama menjadi bidan di BKIA. Pada tahun 1967 KTB ditutup.
Pada tahun 1954 dibuka
pendidikan guru bidan seacara bersama- sama dengan guru perawat kesehatan
masyarakat di Bandung. Pada awalnya pendidikan ini berlangsung satu tahun, kemudian
menjadi 2 tahun dan terakhir berkembang menjadi 3 tahun. Pada tahun 1972
institusi pendidikan dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP). Pendidikan ini
menerima calon dari lulusan sekolah
perawat dan sekolah bidan.
Pada tahun 1970 dibuka
program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR)
ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang disebut Sekolah Pendidikan Lanjutan
Jurusan Kebidanan (SPLJK). Pendidikan ini tidak dilaksanankan secara merata di
seluruh provinsi.
Pada tahun 1974
mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24
kategori), departemen kesehatan melakukan penyederhanaan pendidikan tenaga
kesehatan non sarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan
(SPK) dengan tujuan adanya tenaga multi purpose di lapangan di mana salah satu
tugasnya adalah menolong persalinan normal. Namun karena adanya perbedaan
falsafah dan kurikulum terutama yang behubungan dengan kemampuan seorang bidan,
maka tujuan pemerintah agar SPK dapat menolong persalinan tidak tercapai atau
terbukti tidak berhasil.
Pada tahun 1975
institusi pendidikan bidan ditutup, sehingga selama 10 tahun tidak menghasilkan
bidan. Namun organisasi profesi bidan (IBI) tetap ada dan bergerak sebagaimana
seharusnya mengkoordinir aktivitas para bidan.
Pada tahun 1981 untuk
meningkatkan kemampuan perawat kesehatan (SPK) dalam pelayanan kesehatan ibu
dan anak termasuk kebidanan, dibuka pendidikan Diploma 1 Kesehatan Ibu dan
Anak. Pendidikan ini hanya berlangsung satu tahun dan tidak dilakukan oleh
semua institusi.
Pada tahun 1985 dibuka
lagi program pendidikan bidan yang disebut PPB yang menerima lulusan SPR dan
SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan. Program ini dikenal
sebagai Program Pendidikan Bidan A (PPB/A). Lama pendidikan satu tahun
dan lulusannya ditempatkan di desa - desa. Untuk itu pemerintah
menempatkan seorang bidan di tiap desa sebagai pegawai tidak tetap (bidan
PTT) dengan kerja selama 3 tahun dengan pemerintah yang kemudian dapat
diperpanjang 2 sampai 3 tahun lagi.
Penempatan bidan PTT
ini menyebabkan orientasi sebagai tenaga kesehatan berubah. Mereka harus
dipersiapkan sebaik - baiknya tidak hanya kemampuan klinik sebagai bidan
tetapi juga untuk berkomunikasi, konseling, dan kemampuan untuk menggerakkan
masyarakat desa untuk meningkatkan taraf kesehatan ibu dan anak. Program
pendidikan bidan (A) diselenggarakan dengan peserta didik cukup besar.
Diharapkan pada tahun 1996 sebagian besar desa sudah memiliki minimal seorang
bidan. Lulusan pendidikan ini kenyataannya juga tidak memiliki pengetahuan dan
keterampilan seperti yang diharapkan sebagai seorang bidan profesional,
karena lama pendidikan yang terlalu singkat dan jumlah peserta didik terlalu
besar dalam kurun waktu satu tahun akademi, sehingga kesempatan peserta didik
untuk praktik klinik sangat kurang, sehingga tingkat kemampuan yang dimiliki
sebagai seorang bidan juga kurang.
Pada tahun 1993 dibuka
program pendidikan bidan program B yang peserta didiknya dari lulusan
akademi perawat (AKPER) dengan lama pendidikan satu tahun. Tujuan program ini
adalah untuk mempersiapkan tenaga pengajar pada program pendidikan bidan A.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kemampuan klinik kebidanan dari
lulusan ini tidak menunjukkan kompetensi yang diharapkan karena lama pendidikan
yang terlalu singkat yaitu hanya setahun. Pendidikan ini hanya berlangsung dua
angkatan ( 1995 dan 1996) kemudian ditutup.
Pada tahun 1993 juga
dibuka pendidikan bidan program C ( PBB C ) yang menerima masukan dari
lulusan SMP. Pendidikan di 11 provinsi yaitu: Aceh, Bengkulu, Lampung, Riau, Kalimantan
Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan
Irian Jaya. Pendidikan ini memerlukan kurikulum 3700 jam dan dapat diselesaikan
dalam waktu 6 semester.
Selain itu, antara
tahun 1994 - 1995 pemerintah juga menyelenggarakan uji coba Pendidikan Bidan
Jarak Jauh di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kebijakan ini bertujuan untuk memperluas
cakupan peningkatan mutu tenaga kesehatan yang sangat diperlukan dalam
pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Pengaturan penyelenggaraan
ini telah diatur dalam SK Menkes No.1247/SK/XII/1994.
Diklat Jarak Jauh (DJJ)
bidan adalah DJJ kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap,
dan keterampilan bidan agar mampu melaksanakan tugasnya dan diharapkan
berdampak pada penurunan AKI dan AKB. DJJ bidan dilaksanakan dengan menggunakan
model sebanyak 22 buah.
Pendidikan ini
dikoordinasikan oleh Pusdiklat Depkes dan dilaksanakan oleh Bapelkes di
provinsi. DJJ Tahap 1 ( 1995-1996) dilaksanakan di 15 provinsi, pada tahap II (
1996-1997) dilaksanakan di 16 provinsi, dan pada tahap III ( 1997-1998)
dilaksanakan di 26 provinsi. Secara kumulatif pada rahap I – III telah diikuti
oleh 6.306 orang bidan. Dari jumlah tersebut sejumlah 3.439 (55 %) dinyatakan
lulus. Pada tahap IV ( 1998- 1999 ) DJJ dilaksanakan di 26 provinsi dengan
jumlah tiap provinsinya adalah 60 orang, kecuali provinsi Maluku 40 orang dan
provinsi Jambi 50 orang. Selain pelatihan DJJ tersebut pada tahun 1994 juga
dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawat daruratan maternal dan neonatal ( LSS=
life saving skill ) dengan materi pembelajaran berbentuk 10 modul.
Koordinatornya adalah Direkotorat Kesehartan Keluarga Ditjen Binkesmas. Mengenai pelaksanaannya
diserahkan kepada Rumah Sakit Provinsi/Kabupaten. Kemudian dari hasil evaluasi
ternyata, penyelanggaraan ini dinilai tidak efektif ditinjau dari proses.
Pada tahun 1996, IBI
bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan Amerika College of Nurse
Midwife ( ACNM ) dan Rumah Sakit swasta, mengadakan Training of
Trainer ( TOT) kepada anggota IBI sebanyak 8 orang untuk LSS, yang kemudian
menjadi tim pelatih LSS inti di PP-IBI. Tim pelatih LSS ini mengadakan TOT dan
pelatihan baik untuk bidan di desa maupun bidan praktik swasta. Pelatihan
praktik dilaksanakan di 14 provinsi dan selanjutnya melatih bidan praktik
swasta secara swadaya, begitu juga guru/dosen dari D3 Kebidanan.
Tahun 1995-1998, IBI bekerja sama langsung dengan mother care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit, bidan puskesmas dan bidan di desa di provinsi Kalimantan Selatan.
Tahun 1995-1998, IBI bekerja sama langsung dengan mother care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit, bidan puskesmas dan bidan di desa di provinsi Kalimantan Selatan.
Pada tahun 2000 telah
ada pelatih persalinan normal yang dikoordinasiikan oleh maternal national
health yang sampai saat ini telah melatih APN di beberapa
provinsi/kabupaten. Pelatihan LSS dan APN tidak hanya untuk pelatihan pelayanan
tetapi juga guru, dosen - dosen dari akademi kebidanan.
Selain melalui pendidikan
formal dan pelatihan, untuk meningkatkan kualitas pelayanan juga diadakan
seminar dan lokakarya organisasi. Lokakarya organisasi dengan materi
pengembangan organisasi dilaksanankan setiap tahun sebanyak 2 kali mulai tahun
1996 sampai 2000 dengan biaya dari UNICEF.
Penyebab perkembangan pendidikan kebidanan di Indonesia semakin pesat berkembang
Faktor yang menyebabkan
terus berkembangnya pelayanan dan pendidikan kebidanan adalah tingginya
mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin, khususnya di negara
berkembang dan di negara miskin yaitu sekitar 25 – 50 %. Mengingat hal diatas,
maka penting bagi bidan untuk mengetahui sejarah perkembangan pelayanan dan
pendidikan kebidanan karena bidan sebagai tenaga terdepan dan utama dalam
pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib mengikuti
perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melaui pendidikan formal
atau non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik
melalui pendidikan maupun pelatihan serta meningkatkan jenjang karir dan
jabatan yang sesuai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar